Minggu, 01 November 2009

Mahasiswa dan Arogansi Kemahasiswaan


Pergerakan mahasiswa banyak menjadi sebuah prototipe perubahan di tanah air ini. Tidak jarang mahasiswa menjadi suatu roda penggerak perubahan baik pada tubuh kemahasiswaa itu sendiri hingga reformasi pada skala nasional. Kita lihat saja pergerakan mahasiswa pada masa Soe Hok Gie. Pada masa itu mahasiswa menjadi suatu elemen kontrol sosial dan pemerintahan yang sangat berpengaruh. Sampai meninggalnya, Soe Hok Gie tetap menjadi seorang yang sangat konsisten dalam mengkritisi kebijakan pemerintah, bukan hanya pada era Soekarno namum juga Soeharto. Konsistensi ini merupakan sebuah perjuangan yang sangat luar biasa, karena berbeda dengan teman-temannya yang hanya menjadi insan munafik – berjuang ketika menjadi mahasiswa namun terbawa arus ketika menjadi elemen pemerintahan – Soe Hok Gie tidak mengubah haluan idealisme hidupnya sampai akhir hayatnya. Lihat saja salah satu catatan hariannya yang sangat terkenal :

“Kalau rakyat Indonesia terlalu melarat, maka secara ‘natural’ mereka bergerak sendiri. Dan kalau ini terjadi maka akan terjadi chaos. Lebih baik kalau mahasiswa yang bergerak. Memang karena disiplin kita bersedia untuk menderita, tetapi…to the last point apakah ABRI akan memihak rakyat yang menderita dan bersedia menunjukkan uung bayonetnya pada koruptor dan kalau perlu dengan Pemerintah korup ini”
(Soe Hok Gie, 2004: 124)

Hal yang sama terjadi juga pada mahasiswa di angkatan 66. Jack Newfield, pada waktu membahas fenomena gerakan mahasiswa '60-an, menyebut kelompok minoritas mahasiswa tersebut sebagai kelompok "a prophetic minority". Mahasiswa adalah kelompok minoritas dalam masyarakat bangsa. Bahkan para aktivis yang disebut kaum radikal baru itu hanyalah minoritas juga dalam populasi mahasiswa. Tetapi mereka memainkan peranan yang profetik. Mereka melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang tidak atau dipikirkan masyarakat umumnya. Dalam visi mereka, nampak suatu kesalahan mendasar dalam masyarakat dan mereka menginginkan sebuah perubahan. (http://www.mail-archive.com/milis-kammi@yahoogroups.com/msg13633.html)

Namun kini perjuangan mahasiswa yang identik dengan kontrol sosial melalui demonstrasi telah banyak mengalami perubahan yang sangat signifikan. Perjuangan tidak lagi didasari oleh sebuah keikhlasan dan sebuah cita-cita untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih baik di masa depan. Perjuangan mahasiswa tidak lagi menjadi sebuah sarana bagi mahasiswa untuk mengingatkan para penguasa di sebuah negara demokrasi yang diakui oleh negara sekaliber Amerika Serikat bahkan (disebutkan dalam kunjungan presiden George W. Bush di Indonesia).
Bahkan bias ini telah menjadi sebuah bias yang sangat akut, yang bukan hanya mengalami pergeseran fungsi, namun juga pergeseran idealisme dasar yang melandasi setiap pergerakan dan aksi mahasiswa selama ini. Contoh konkritnya ada di jurusan teknik mesin sebuah institut teknologi nomor dua terbaik di Indonesia yang terletak di kota Surabaya.

Ketika itu mahasiswa baru angkatan 2007 baru saja masuk sebagai mahasiswa baru teknik mesin institut tersebut. Seperti mahasiswa pada umumnya, mahasiswa baru selalu diwajibkan menjalani sebuah proses yang sangat melelahkan dari para seniornya : ospek jurusan (atau kaderisasi, interaksi, atau apapun istilahnya untuk menyamarkan kesia-siaan di dalamnya). Di dalam ospek inilah para mahasiswa baru diajari sebuah metode yang sangat mereka (seniornya) banggakan sebagai simbol eksistensi mereka. Apalagi kalau bukan demostrasi.

Demontrasi kali ini adalah demonstrasi berskala kecil terhadap rektorat institut karena telah menaikkan uang kuliah yang menurut mahasiswa sangat signifikan. Institut yang – menurut mahasiswa – menjadi sebuah tempat kuliah rakyat – karena uang kuliahnya yang cukup jauh selisihnya dengan institut terbaik lainnya di Indonesia di kota kembang – kini terancam karena adanya sebuah undang-undang BHP yang konon menjadi sebuah ajang liberalisasi pendidikan di Indonesia. Namun sebelum demonstrasi “betulan” dilaksanakan, diadakanlah sebuah simulasi demonstrasi agar para mahasiswa baru “lebih siap” untuk melakukan “perjuangan”

Usai simulasi demonstrasi, mahasiswa senior bertanya kepada mahasiswa juniornya : ”Bagaimana rasanya berdemo? Asyik kan?”. Seorang mahasiswa kemudian maju ke depan dan mengemukakakn pendapatnya bahwa mengapa demonstrasi yang katanya menjadi sebuah metode untuk perjuangan mahasiswa ternyata hanyalah sebuah picisan untuk menunjukkan eksistensi mahasiswa dengan cara yang menurutnya tidak layak. Ramailah kemahasiswaan mesin karena ada seorang junior yang berani dengan lantang melawan “sistem” yang sudah terbentuk lama di kalangan mahasiswa mesin di sana. Sistem yang konon bertujuan membentuk karakter pada kadernya (atau dalam bahasa saya para korban) dengan cara yang bahkan tidak memanusiakan manusia.

Kenyataan di atas menunjukkan bahwa perjuangan mahasiswa yang konon sempat menjadi titik tolak berbagai macam revolusi di Indonesia kini tidaklah semurni dulu – atau bahkan telah terbanting setir orientasinya oleh mahasiswa itu sendiri. Sebuah transfer ilmu yang sama sekali tidak sempurna dari senior ke junior bisa jadi merupakan sebuah sebab kunci terjadinya pembiasan basis idealisme penggerak aksi-aksi kemahasiswaan. Aksi kemahasiswaan yang dulu murni sebagai kontrol sosial presiden dan kabinetnya – yang kerap kali dikelilingi oleh protokoler yang nyaris tidak bisa ditembus - kini hanyalah sebuah tempat bagi mahasiswa-mahasiswa yang kehilangan fasilitas untuk menunjukkan eksistensinya. Mahasiswa tersebut sama sekali tidak memiliki lingkungan untuk dapat menyalurkan “hasrat muda”-nya untuk dapat diakui oleh lingkungan. Kemudian mahasiswa menjadikan aksi mahasiswa sebagai sebuah kebanggaan semu untuk dapat menyalurkan hasrat mudanya tersebut.

Mengapa kebanggaan semu? Karena kebanggaan tersebut sama sekali tidak memberikan manfaat kepada lingkungan tempat penyaluran keinginan eksistensi seorang mahasiswa. Tidak sedikit lingkungan justru menganggapnya sebuah arogansi yang luar biasa. Arogansi yang sangat bersifat sementara karena arogansi tersebut akan hilang dengan sendirinya seirama beranjaknya fase psikologis remaja menjadi dewasa. Alih-alih berpihak kepada rakyat, aksi mahasiswa justru menjadi sebuah tetek bengek bagi rakyat karena hanya membuat macet jalan, urakan, dan toh akhirnya perubahan yang sebenarnya bagi kehidupan mereka secara nyata tidak pernah mereka rasakan. Akhirnya, masyarakat (saya lebih nyaman mengatasnamakan diri sebagai masyrakat dibandingkan sebagai mahasiswa) akan berpikir bahwa baik penguasa maupun mahasiswa tidak berbeda dalam unjuk gigi dan nol tindakan.

Masyrakat tentunya menginginkan sebuah perubahan nyata bagi kehidupan mereka. Mereka ingin mendapatkan bantuan untuk menyekolahkan anak-anak mereka, atau sekadar mengisi perut mereka yang kosong. Masa bodohlah dengan aksi-aksi mahasiswa itu yang hanya mengganggu ketentraman dan juga keindahan. Apalagi sampai terjadi bakar-bakar, jalan menjadi tidak karuan dan sampah bertebaran di mana-mana. Ditambah lagi dengan jauhnya mahasiswa kini dengan kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Saya bahkan berani bertaruh kurang dari 10% mahasiswa “aktivis pergerakan” yang mengenal dengan dekat – atau sekadar mengetahui nama – seorang penjual donat yang biasa menjajakan makananna di dekat masjid dari waktu dhuha sampai magrib. Atau seorang penjual nasi sederhana yang menjajakan makanannya dengan harga sangat rendah namun dengan porsi kuli-kuli bangunan.

Akhirnya, hanyalah arogansi yang mendasari pergerakan-pergerakan mereka. Jika dengan masyarakat konon mereka wakili saja mereka tidak mengenalnya – bahkan nama atau sekadar tersenyum menyapa seraya mengucapkan salam – apalah artinya arti “keterwakilan” dalam setiap demo-demo mereka? Bagi saya, keterwakilan artinya adalah arogansi semu, apatis akut, atau mungkin hanyalah sebuah sarana untuk menunjukkan eksistensi dengan cara yang sangat – mohon maaf – mengganggu.

Dari manakah arogansi tersebut ditelurkan? Dari mana lagi kalau bukan kaderisasi mahasiswa baru. Sebuah istilah yang sangat populer di kalangan mahasiswa aktivis untuk menggantikan istilah lama plonco atau ospek. Ada lagi yang menggunakan istilah yang lebih menggugah lagi : interaksi. Namun seperti yang telah saya sebutkan di atas sepertinya itu semua hanyalah satu cara untuk berusaha menyembunyikan kesia-siaan yang ada di dalamnya

Toh pada akhirnya kaderisasi tidak mengubah apapun – atau hanya sedikit para “kader” yang mengalami perubahan. Biasanya kaderisasi di dalam sebuah organisasi kemahasiswaan memang bertujuan untuk mengarahkan paradigma berpikir mahasiswa baru yang masih agak “polos” menuju tiga hal : perjuangan, keorganisasian, atau pengembangan karakter. Tapi jika akhirnya ketiga paradigma tersebut hanyalah berbuntut kepada keapatisan mahasiswa kepada masyarakat di sekitarnya, arogansi mahasiswa kepada lingkungannya, atau berbuntut kepada meluapnya hasrat akan eksistensi secara tidak terkendali, apakah artinya itu semua?

Berapa persenkah sebenarnya mahasiswa aktivis yang memiliki predikat cum laude? Sangat sedikit saya kira. Hal inilah yang kemudian membuat saya sangat bertanya-tanya, apakah mahasiswa di luar sana sudah melupakan harapan orang tua dan keluarga mereka : belajar, bekerja, dan menjadi tulang punggung keluarga?

Saya sebenarnya tidak sepenuhnya keberatan dengan adanya kaderisasi, asalkan kaderisasi itu memang diadakan dengan cara yang tepat dan dengan sebuah metode yang baik. Di zaman seperti sekarang ini saya merumuskan ada setidaknya tiga buah target yang harus dicapai dalam sebuah proses kaderisasi mahasiswa baru.

Target yang pertama adalah bagaimana seorang mahasiswa baru dapat memiliki kemampuan intrapersonal yang baik. Tidak sedikit mahasiswa yang terdisorientasi pada saat kuliah karena merasa salah jurusan. Beberapa yang lain merasa minder dengan sahabatnya karena merasa sahabatnya sangat multitalented dan dia terus berada di dalam bayang-bayang sahabat sekaligus saingannya itu. Dua permasalahan di atas pada umumnya disebabkan karena seorang mahasiswa tidak dapat mengenal dirinya sendiri, mengenal apakah kelebihan yang harus dikembangkan dan kekurangan apa yang harus ditutupinya. Seorang kader melalui proses kaderisasi di kemahasiswaan harus bisa mengenali dirinya sendiri, potensi apa yang dimilikinya, dan bagaimana mengaktualisasikannya. Mereka harus dibekali sebuah ilmu psikologi praktis seperti multiple intelligence, tipe kepribadian dominan (sanguinis – melankholis – phlegmatis – kholeris), atau sekadar cara belajar dominan (visual – kinestetis – audio)

Target kedua adalah seorang mahasiswa harus dapat memiliki kemampuan interpersonnal yang luhur. Kemampuan interpersonnal sangat dibutuhkan untuk dapat dipimpin dan memimpin sesuai kondisi psikologis seorang. Kemampuan interpersonnal juga harus dikembangkan ke arah bagaimana seorang mahasiswa dapat berasimilasi dengan lingkungannya – terutama masyarakat di daerah kosan yang pada umumnya berada di lingkungan ekonomi menengah kebawah dan tingkat pendidikan SMA. Jika hal ini dapat dicapai, mahasiswa dapat menjadi seorang dengan pribadi yang luhur karena dapat memimpin dan dipimpin dengan baik, serta menghilangkan – atau setidaknya menyembunyikan arogansinya kepada masyarakat dan melebur dengan baik dengan masyarakat.

Target ketiga – dan merupakan target yang sangat penting – adalah kemampuan spiritual mahasiswa harus terus dipupuk. Mahasiswa harus dapat menjadikan agama adalah sebuah tuntunan hidup dan sumber hukum, bukan hanya sekadar bimbingan ritual dan penggugur kewajiban kepada Tuhannya. Nilai agama yang bersifat absolut akan menjaga diri seorang kader menjadi seorang yang terlalu ekstrem secara idealisme.

Jika ketiga target yang saya rumuskan ini dapat dilaksanakan, mahasiswa tidak akan lagi menjadi tetek bengek bagi masyarakat. Mahasiswa tidak akan lagi membuat jalanan menjadi kelewat kotor atau macet karena demonstrasi yang mereka lakukan. Tidak akan ada lagi masyarakat yang merasa termajinalkan dari pendidikan dan intelektualitas karena mahasiswa ada di tengah-tengah mereka. Toh masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa menjadi seorang mahasiswa, atau menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat mahasiswa adalah sebuah mimpi sulit diraih, harus menunggu 1000 tahun lamanya.

Mahasiswa tidak perlu lagi mencari sebuah media untuk meluapkan keinginan untuk mencari eksistensi, karena toh eksistensi ada karena prestasi, bukan aksi. Negara maju bukan karena aksi, tapi karena kepedulian masyarakat luas. Dan kepedulian masyarakat luas tidak akan tercapai jika mahasiswa tidak dapat berasimilasi dengan masyarakat dengan baik, untuk mentransfer ilmu secara praktis dan gratis kepada masyarakat – setidaknya masyarakat yang ada di sekitar mahasiswa.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

legal viagra viagra rx viagra price viva viagra song free sample pack of viagra can women take viagra what is generic viagra buy viagra in london england generic viagra india problems with viagra viagra pharmacy can viagra be used by women negative effects of viagra viagra pill

rezapebrianhardika mengatakan...

sekarang memang banyak aksi yang hanya didasari atas kebutuhan akan eksistensi di mata masyarakat. Bahkan tanpa memandang bagaimana perilakunya dalam menjalankan kewajiban dasarnya (baca:kewajiban akademik). Dan seringkali dasar yang digunakan adalah romantisme masa lalu (seperti ITB pada tahun 1978, atau pada masa 1998)

Tapi tetap saja, tidak semua aktivis seperti itu. Tidak semua perjuangan hanya didasari pada arogansi semata. Dan tidak semua aktivis melakukan perjuangan dengan cara turun ke jalan.

Mungkin salah satu bentuk perjuangan tanpa harus turun ke jalan adalah melalui jalan media.
Konkritnya seperti Ganesha TV. :P
haha..

nice post zul. :)

Zulfikar hakim mengatakan...

ini paragrag pertama meyakinkan. Kalimat terakhir di paragraf kedua menghancurkan semuanya :P

Berita Terkini mengatakan...

nice post...

berita terkini

Endangered Animal of the Day : Lupakah Kita Akan Keberadaan Mereka?