Jumat, 22 April 2011

Ibu Kartini, Islam, dan posisi perempuan dalam kacamata seorang kartini

Tulisan ini disadur dari majalah elfata katanya. Ada yang punya majalah tersebut untuk konfirmasi?

AKHIR PEMIKIRAN IBU KARTINI
(Beliau adalah istri ke empat dari Bupati Rembang dan meninggal di usia 25
tahun dengan membawa pemahaman Islam yang lurus, InsyaAllah)


Kartini dianggap sebagai pelopor perjuangan emansipasi di Indonesia. dan
akhir-akhir ini namanya dihubung-hubungkan dengan kata feminisme.
Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah sebagian
proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses kartini tak banyak terungkap.
Pemikiran pada awal prosesnya-lah yang terlanjur lantang disuarakan sehingga
lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhir hayatnya, Pemikiran kartini
telah banyak berubah.

KARTINI DULU

Ngga bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini memperjuangkan
emansipasi, mendobrak adat, dan berkiblat ke Barat, serta mengkritisi Islam.
Pada awalnya, Kartini emang demikian. Inilah contoh surat-suratnya:
“…Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu
meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa” [surat
kepada Stella, 25 Mei 1899]

“Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan menyiapkan
aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih.” [surat kepada Ny
Ovinksoer, 1900]



Tidak heran kalo Kartini punya pemikiran demikian. Gimana lagi? Temen
surat-menyurat Kartini kebanyakan adalah orang barat yang hendak membaratkan
kaum ningrat di Indonesia, dimana tujuan akhirnya adalah agar mereka tidak
melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada jaman tersebut.
Mari kita simak teman-teman korespodensi Kartini. siapa sajakah mereka..?.
1. J.H. Abendon

Abendon ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Deptemen Pendidikan, Agama,
dan Kerajinan. Abendon banyak meminta nasihat dari Snouck Hurgronye (seorang
orientalis yang pura-pura masuk islam untuk mencari cara mematikan semangat
jihad umat islam di Indonesia). Menurut Hurgronye, golongan yang paling
keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam. Memasukkan peradaban
Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi
pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya
telah dibaratkan. Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil
adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang menganut agama Islam untuk
kemudian dibaratkan. Dan Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati
Kartini.

2. Stella (Estelle Zeehandelaar)
Seorang wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda
saat itu.

3. Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)
Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif.
Dialah orang yg paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada
awalnya, ia bermaksud untuk memurtadkan Kartini dengan kedatangannya
seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpeduliannya
terhadap agama.

BERTEMU KYAI SHOLEH DARAT

Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya
pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa
memahamkan apa yang diajarkan. coba kita simak surat kartini kepada stella
berikut ini.
“Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak
boleh memahaminya. Al Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke
dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang
disini belajar membaca Al Qur’an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya.
Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti
apa yg dibacanya.” [surat kepada Stella, 6 Nov 1899]

Perlu diketahui pada waktu pemerintahan Hindia Belanda umat muslim memang
dibolehkan mengajarkan Al Qur’andengan syarat nggak diterjemahin alias cuma
belajar baca huruf arab (pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini,
dimana belajar Al-quran dianggap selesai ketika telah mampu membaca Al-quran
dengan lancar sampai akhir walaupun tidak paham makna-nya –khataman-). Dan
ini memang taktik belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap
Al-quran dan akhirnya mereka tidak akan angkat senjata kepada penjajah kafir
belanda.

Suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak.
Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga.
Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir.
Kartini tertarik kepada materi yg sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh
Kyai Saleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar
bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.

Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia sempat
mengerti makna dan arti surat Al Fatihah, yang isinya begitu indah
menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Sholeh diminta
menerjemahkan Al Qur’an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul
Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13 juz,
mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada
Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati
Rembang.
Kyai Sholeh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun,
Kartini hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam mengenal Islam.

Tahu nggak? Sebenarnya ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu sebenarnya
Kartini temukan dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah“…minazh-zhulumaati
ilan-nuur” yang artinya “dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya
(Islam)”. Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot
Licht". dan kemudian oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan
surat-surat Kartini diungkapkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang"

KARTINI KEMUDIAN

Kartini yang mulai mengenal islam pun berubah. Pandangannya terhadap Islam
menjadi positif.
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain
memandang agama Islam patut disukai” [surat kepada Ny. Van Kol, 21 Juli
1902].

Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan
untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme
dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut sebagai
westernisasi), namun agar para wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya
sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya:

“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan,
bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi
saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin
pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap
melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam
tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama.” [kepada Prof.
Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]
Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini
menulis;

“Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa
kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin
mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah
kami sudah memuja orang dan bukan Allah” [kpd Ny. Abendanon, 12 Okt 1902]

“Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu
benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami,
tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah
Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat
banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?”
[surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]

Kartini meninggal dalam usia muda 25 thn, empat hari setelah melahirkan
putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. namun yang patut
disayangkan kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar pejuang
emansipasi wanita. Banyak orang yang nggak tahu perjalanan Kartini menemukan
Islam dan perubahan pola pikirnya.

Smoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang IBU
KITA KARTINI, daripada sekedar peringatan tahunan tampa makna.

(aboe anas disadur dari majalah Elfata)

1 komentar:

Robertus Sutardi mengatakan...

This is a very well thought out site with very good content, I enjoyed reading it very much indeed. I’m certainly going to check out the sites you recommend. Travel Oh Travel

Endangered Animal of the Day : Lupakah Kita Akan Keberadaan Mereka?