Senin, 12 April 2010

Nasionalisme? Bullshit lah!

Ketika SMA, aku masuk di sebuah sekolah yang sangat menekankan nasionalisme. Hal ini terbersit dari salah satu kalimat Prasetya (janji) siswa yang sering terdengar di upacara senin dan upacara-upacara besar di SMA aku itu. Aku ingat benar bunyinya sebelum revisi dilakukan : ”…. memberikan karya terbaik bagi masyarakat, bangsa, negara, dan dunia

Kata-kata itu aku pegang erat di dalam dada aku. Kalau boleh meminjam istilah hadits, aku gigitnasionalisme itu di gigi geraham aku, berusaha agar tidak lepas dan tetap ada di dalam diri.

Aku ingat betul ketika itu aku pernah mewakili Indonesia dalam salah satu ajang International Conference of Young Scientist di Stuttgart, Jerman. (Ajang ini sedang digelar di Bali ketika aku menulis tulisan ini, selama satu minggu ke depan). Dengan merah putih di dada aku (bahasa lebay-nya gitu) aku mewakili Indonesia di dalam ajang tersebut. Dan aku dengan bangga mempersembahkan sebuah medali untuk merah putih yang aku cintai itu.

Kemudian idealisme hanyalah tinggal idealisme. Singkat kata, aku sedang mencari kuliah untuk melanjutkan pendidikan. UNPAR, sebuah universitas yang sampai sekarang masih rekat di hati, menerima aku dengan tangan terbuka, di jurusan Fisika FMIPA, sebuah jurusan yang menempa aku dalam ICYS tersebut. Namun ada sebuah universitas yang sangat terkenal, dengan lambang gajah duduknya (yang dulu katanya sangat dibanggakan hingga menyerupai thoghut – patung yang disembah – tapi yang bilang gitu anak Unpad jaman baheula pisan loh, bukan aku) masih menggelitik aku, karena aku pun sebenarnya sangat tertarik masuk jurusan Informatika.

Kemudian aku dan ibu aku mendatangi Direktorat Pendidikan Institut Tersebut di dekat flyover Surapati. Aku menunjukkan apa yang pernah aku dapat, apa yang pernah aku berikan untuk Indonesia yang sangat aku cintai. Namun, tahukah kau kawan, apa yang mereka katakan? “ICYS, apaan yak? Mohon maaf kami tidak bisa menerimanya

Di sinilah, di sinilah titik balik nasionalismeku luntur. Merah putih dulu kujunjung, dan ketika pulang dari direktorat pendidikan itulah aku diinjak-injak oleh si merah putih. Merah putih yang pernah aku bawa, pernah aku camkan di dadaku, dan aku harumkan namanya, kini telah menghina prestasi yang pernah aku torehkan itu – yang waktu itu aku niatkan aku persembahkan untuk almamater, negara, dan kedua orangtuaku.

Bayangkan kawan, negara manalah lagi yang tidak menghargai – atau bahkan melecehkan prestasi yang pernah ditorehkan anak bangsanya sendiri? Negara manakah lagi yang institut teknologi terbaiknya lebih mendewakan birokrasi dibandingkan dengan prestasi seorang anak bangsa, yang mempersembahkan prestasinya itu kepada negara yang sangat dicintai olehnya? Negara manakah lagi yang bahkan hampir saja membiarkan seorang anak bangsanya nyaris tidak menempuh pendidikan tinggi, padahal ia ingin sekali membangun negara dan memberikan karya terbaiknya bagi bangsa dan negara?

Kau tahu kawan? Kini pendidikanku ditopang oleh sebuah perusahaan yang sahamnya dipegang mayoritas oleh negara tetangga, Malaysia. Komisionernya berinisiatif untuk melakukan CSR dalam bentuk beasiswa kepada anak-anak bangsa – yang bahkan bukan putra negaranya sendiri. Lunturlah rasa nasionalisku itu. Masa bodohlah sekarang aku dengan semboyan semboyan membangun negara. Untuk apalah aku membangun negaraku, jika negarakulah yang pernah mencampakkan aku dengan birokrasinya yang kaku, di tangan gurita-gurita pendidikan yang semakin mahal dan (konon) komersil.

Aku ingat kawan, salah seorang temanku ingin mengabdi kepada nusa dan bangsa dengan menjadi TNI. Aku ingat selentingan-selentingan mereka : “TNI harga mati nasionalisme” atau “Pendapatan itu tidak penting. Yang penting adalah nasionalisme”

Kawan, aku hanya geli mendengar perkataan mereka. Aku hanya bisa berkata kepada mereka : “Yah, semoga negara yang kau dewakan dan kau puja itu tidak mengecewakanmu, atau bahkan mencampakkanmu, seperti yang pernah mereka lakukan kepadaku. ”

Parabon, Bandung 12 April 2010

1 komentar:

Copycat91 mengatakan...

kisah yang sama, kak.
beasiswa olimpiade internasional ga diterima di institut itu, yang diterima malah olimpiade nasional.

Endangered Animal of the Day : Lupakah Kita Akan Keberadaan Mereka?